Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Showing posts with label Agama Dan Iptek. Show all posts
Showing posts with label Agama Dan Iptek. Show all posts

Hukum Puasa Edisi Lengkap

Puasa secara bahasa berarti menahan ( imsak ). saat seorang diam maka dia dikatakan shaum. saat seorang menahan makan dia juga bisa dikatakan shaum dan seterusnya.

kemudian shaum ini secara istilah maknanya berubah menjadi lebih khusus. yaitu menahan dari segala sesuatu yang sudah ditentukan, di waktu tertentu dan dilaksankan oleh seorang tertentu.

Tidak wajib puasa selain ramadhan menurut ijma. ketika puasa selain ramadhan menjadi wajib, maka hal tersebut karena ada sesuatu yang menyebabkan puasa tersebut wajib. semisal nadzar dan lain-lain. dalilnya adalah hadis nabi SAW saat ditanya oleh orang a'rabi. dalam perkataan beliau SAW : dan puasa ramadhan. bertanya orang a'rabi : apakah wajib bagiku selain bulan ramadhan ? jawab nabi : tidak. terkecuali engkau mau berpuasa sunah. ( hadis riwayat abu hurairah, diriwayatkan oleh bukhari dalam bab shaum 1899 )

diriwayatkan oleh abu dawud dg sanadnya dari 'abdurrahman bin abi laila dari mu'adz bin jabal: puasa diubah menuruti tiga perubahan. kemudian berkata : nabi SAW pertama kali berpuasa tiga hari setiap bulan, dan berpuasa 'asyura'. kemudian allah menurunkan : diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan pada orang-orang sebelum kalian. pada saat ayat ini turun, orang masih bebas untuk memilih antara puasa dan tidak.dan yang tidak berpuasa cukup mengganti dengan memberi makan fakir miskin setiap harinya. ini berlangsung selama satu tahun, kemudian allah menurunkan : di bulan ramadhan yaitu ketika qur'an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk tersebut dan pembeda. maka ketika kalian menyaksikan bulan tersebut, berpuasalah.

Puasa ditandai saat keluarnya fajar, dan berakhir saat tenggelamnya matahari. sebagaimana hadis nabi SAW : jika malam hari datang dari sini, dan siang tidak kelihatan dari sini, serta matahari tenggelam dari sini, maka orang yang berpuasa sudah boleh berbuka. ( hadis 'umar diriwayatkan oleh bukhari dalam bab shaum 1954 ).
 

Tentang Hilal

tidak wajib puasa ramadhan sampai terlihat hilal. sehingga jika hari mendung karena tidak melihat hilal, maka dia harus menyempurnakan bulan sya'ban terlebih dahulu. sebagaimana hadis riwayat ibnu 'abbas : berpuasalah jika kamu melihat hilal, dan berbukalah saat kamu melihatnya, jika kamu diliputi keraguan, maka sempurnakanlah masa bulan yang sedang kamu lalui dan janganlah kamu menghadapi bulan yang kamu ragu didalamnya. ( hadis riwayat muslim dalam bab shiyam )

Masalah : jika hitungan hari sudah tiga puluh, dan kita mengira hari tersebut masih bulan sya'ban, kemudian terbukti hari tersebut sudah memasuki bulan ramadhan, maka kita wajib menqadha' puasa yang tertinggal hari itu.

Masalah : Jika melihat hilal di satu negara, tapi tidak melihatnya di negara yang lain, maka kewajiban puasa menyeluruh, atau tidak terbatas hanya pada negara yang melihat hilal saja. hal ini jika negara tersebut berdekatan. adapun jika berjauhan, maka kewajiban hanya pada yang melihat hilal saja ( lihat al-majmu' syarah muhadzab juz 5 hal. 272 )

Tentang hal-hal yang membatalkn puasa

1. makan dan minum.
2. jima' ( bersetubuh )
3. istimna' ( onani )
4. menyengaja untuk muntah
5. mengeluarkan darah dg berbekam ( khilaf )
6. keluarnya darah haidh dan nifas bagi perempuan

Tentang sunah-sunah untuk orang yang berpuasa

1. Sahur
2. mengakhirkan sahur
3. mempercepat berbuka ( ifthar )
4. berdoa ketika berbuka dg doa : allahumma laka shumtu wa'ala rizqika afthartu
5. Bersiwak
6. memberi makan pada orang yang sedang puasa yang tidak mampu


Tentang kewajiban berpuasa

Puasa wajib untuk orang islam baligh berakal dan mampu serta dalam keadaan mukim dalam suatu tempat. sehingga orang gila, musafir, sakit, bayi, orang hamil dan menyusui tidak diwajibkan puasa.

Imam nawawi dalam majmu' syarah muhadzab menyebutkan, orang yang murtad tidak wajib berpuasa. dalam arti pada masa murtadnya. sehingga murtad akan terus berdosa ketika tidak melakukan puasa pada masa murtadnya. ( lihat al-majmu' syarah muhadzab hal. 249 juz 5 )

adapun bayi, dia tidak diwajibkan berpuasa sebagaimana hadis nabi SAW : diangkat pena dari tiga orang. dari anak kecil sampai dia baligh, dari orang yang tidur sampai dia terbangun, dan dari orang yang gila sampai dia sadar. ( lihat majmu' syarah muhadzab juz 5. hal 250 ). tapi ketika sudah mencapai sembilan tahun dia harus mulai diperintah melaksanakan puasa, dan dipukul dg pukulan ringan saat dia meninggalkannya pada usia sepuluh tahun. hal ini diqiyaskan dg hadis shalat. ketika sang bayi sudah baligh, dia tidak wajib menqadha' puasa yang ditinggalkan pada masa kecilnya.

begitu juga orang gila tidak diwajibkan puasa. ataupun saat dia gila kemudian sadar, dia pun tidak diwajibkan menqadha' puasa yang tertinggal pada masa gilanya.hal ini melihat hadis yang diriwaytkan oleh 'aisyah diatas.

adapun orang yang pingsan, maka dia wajib menqadha' saat dia sadar. hal itu tersebut dalam firman allah : barang siapa yang sakit atau dalam perjalanan, maka hitungannya ada di hari yang lain. pingsan berbeda dengan gila. karena sebagaimana perkataan imam nawawi, gila adalah kekurangan ( naqsh ) yang hal tersebut ada pada hadis 'aisyah diatas, sedangkan pingsan adalah penyakit yang menyebabkan masuk pada keumuman ayat ( al-baqarah ).

perincian pendapat tentang orang gila adalah sebagai berikut : menurut abu ishaq al-syairazi orang yang pingsan harus menqadha'. pendapat ini diriwayatkan oleh mawardi dan abnu shabagh dan selainnya dari ibnu suraij. berkata al-mawardi : madzhab ibnu suraij ini tidak benar. adapun pendapat imam syafi'i dan abu hanifah serta fuqaha' yang lain : orang gila tidak wajib qadha saat dia sadar. pendapat inilah yang kita pakai. terdapat madzhab yang lain dari sufyan atsauri : jika orang yang gila sadar ditengah-tengah bulan ramadhan, maka dia wajib menqadha' setengah bulan yang dilalui tanpa puasa. dan jika dia sadar setelah habisnya bulan ramadhan, maka dia tidak wajib qadha'.

Masalah : jika terdapat orang murtad kemudian dia gila, maka dia wajib menqadha' semuanya. artinya ketika dia masuk islam, hari yang diqadha' tidak dikurangi dg masa gilanya si murtad.karena ketika dia gila dalam keadaan murtad, sedangkan murtad hukum asalnya wajib berpuasa ketika si murtad masuk islam kembali. pendapat ini diriwayatkan oleh imam rafi'i.

Masalah : jika orang kafir memeluk islam di tengah hari di bulan ramadhan, maka si kafir di sunatkan menahan untuk tidak makan sampai selesainya hari tersebut. hal ini adalah penghormatan waktu ( hurmah al-waqt ). dan kafir tidak wajib menqadha' puasa yang tertinggal semasa kafirnya orang tersebut. hal ini berdasar firman allah : katakanlah bagi orang-orang kafir untuk berhenti ( dari kekafirannya ), maka akan diampuni apa yang telah berlalu. 

Tentang puasa perempuan

Orang yang haidh dan nifas wajib menqadha' puasa ketika mereka suci. sebagaimana riwayat 'aisyah : kita di perintahkan untuk menqaha' puasa dan tidak di perintah untuk menqadha' puasa. ( hadis diriwayatkan oleh muslim no. 336 )

adapun perincian hukumnya adalah, tidak wajib bahkan haram orang yang sedang haidh ataupun nifas untuk berpuasa. jika orang yang haidh suci di tengah hari saat puasa, maka dia di sunahkan untuk imsak ( menahan sebagaimana orang yang sedang puasa ) sampai selesainya hari tersebut. Abu hanifah dan auza'i serta atsauri memandang wajib imsak, begitu juga pengarang kitab 'iddah. adapun pendapat yang kita pakai adalah dari imam syafi'i tentang tidak wajibnya hal tersebut.

Masalah : jika dalam keadaan puasa seorang perempuan memasukkan air ke dalam alat kelaminnya, maka batal puasanya beserta kewajiban menqadha'. demikian pendapat yang mu'tabar dalam madzhab. ( lihat dar-alifta pembahasan puasa )

Tentang niat

Tidak sah puasa jika tanpa niat sebagaimana hadis riwayat 'Umar : bahwa setiap perbuatan tergantung pada niatnya. kewajiban niat adalah pada setiap harinya. hal itu dikarenakan puasa adalah ibadah yang dilaksanakan di waktu fajar, dan selesai ketika tenggelanya matahari. tidak shah puasa ramadhan jika niatnya di mulai pada siang hari sebagaimana hadis riwayat hafshah : barang siapa yang tidak memulai niatnya di malam hari tidak ada puasa pada hari trersebut. ( diriwayatkan oleh tirmidzi dalam bab shaum no 730 )

Masalah : apakah boleh jika niatnya bersamaan dengan munculnya fajar ? berkata ulama syafi'iah : di bolehkan niat bersamaan saat fajar muncul. hal tersebut dikarenakan puasa adalah ibadah. dan ibadah niatnya bisa bersamaan dengan dimulainya ibadah tersebut. dan ibadah puasa dimulai sat fajar, sehingga niat saat fajar pun di bolehkan.

Niat diwajibkan mengkhususkan perbuatan. dalam hal puasa, maka orang yang niat wajib meniatkan puasa untuk bulan ramadhan. hal inilah yang dimaksud dalam hadis umar : bagi setiap orang adalah apa yang menjadi niatnya ( innama likullim ri in ma nawa )

Masalah : jika orang yang sedang haidh berpuasa untuk esok hari sebelum berhentinya darah, kemudian ternyata darahnya benar-benar berhenti di malam hari tersebut, maka berkata al-baghawi : jika memang kebiasan berhentinya darah pada malam hari, maka shah puasanya.karena jika malam hari berhenti, siangnya di hitung suci.

Tentang kesunahan berbuka

Disunahkan berbuka diawali dengan kurma atau segala makanan yang mempunyai rasa manis, jika tidak menemukan makanan yang manis-manis maka disunahkan diawali dengan air. dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh ibnu 'amir : berkata rasululah SAW : jika engkau berbuka maka berbukalah dengan kurma, jika tidak menemukan, maka berbukalah dengan air. karena sesungguhnya air itu suci. ( diriwayatkan oleh abu dawud dalam bab shaum 2345 )

tentang Qadha'

Jika seseorang mempunyai hutang bulan ramadhan, maka tidak boleh mengakhirkan qadha' nya sampai datang ramadhan berikutnya. Sehingga jika kejadian seperti ini, maka diwajibkan baginya untuk membayar satu mud per hari yang d diqadha' untuk bulan kemarin. sebagaimana hadis riwayat abu hurairah : barang siapa menunda qadha' ramadhan sampai datang ramadhan berikutnya, maka dia diharuskan berpuasa untuk bulan ramadhan bersama dg orang-orang yang berpuasa, dan dia diwajibkan menqadha' bulan ramadhan yang lalu dengan membayar satu mud untuk fakir miskin.
Masalah : jika mengakhirkannya karena ada udzur seperti sakit yang berkelanjutan hingga akhirnya datang ramadhan berikutnya, maka hanya diwajibgkan qadha'. ini adalah pendapat abu hurairah dan ibnu 'abbas serta 'atha' bin abi rabbah.

Masalah : dalam menqadha' ramadhan apakah diharuskan berurutan atau boleh terpisah ? berkata ulama syafi'iah : disunahkan berurutan. tapi jika terpisah sudah mencukupi.

Masalah : Dibolehkan menurut syafi'iah menqadha' puasa ramadhan di semua bulan dan hari sebelum memasuki ramadhan berikutnya tekecuali dihari 'id dan tasyriq. dan tidak dimakruhkan ketika menqadha' di hari/bulan yang pada asalnya di makruhkan.

Masalah : jika seseorang mempunya hutang bulan ramadhan, dan tidak sempat menqadha' sampai meniggal, maka tafshil ( rinci ) : jika dia tidak menqadha' karena udzur misalkan sakit yang berkepanjangan sampai mati, maka bagi keluarganya tidak wajib apapun. tapi jika untuk menqadha' tidak ada udzur, maka bagi keluarganya wajib mngeluarkan satu mud perhari.

Tentang Sahur dan berbuka puasa

Hukum sahur adalah sunah, sebagaimana hadis nabi SAW yang diriwayatkan oleh anas : sahurlah kalian semua. karena dalam setiap sahur itu terdapat berkah. ( di riwayatkan oleh muslim dalam bab fashl al-sahur no 1090 )

Waktu sahur adalah mulai dari tengah malam, sampai terbitnya fajar. dan disunahkan mengakhirkan sahur, sebagaimana hadis nabi SAW yang diriwayatkan oleh abu dzar : Umatku masih senantiasa dalam kebaikan jika mereka mempercepat buka puasa dan mengakhiran sahur. (diriwayatkan oleh ahmad dalam musnadnya no 21370 )

Tentang jima' di siang ramadhan

jika puasa batal sebab jima', maka wajib baginya untuk menqadha' dg membayar kafarah 'udzma. karena jika orang yang sakit dan musafir diperintahkan untuk menqadha' , maka orang yang jima' lebih harus diperintahkan lagi karena tidk adanya 'udzur. dan wajib baginya menahan ( imsak ) sampai terbenamnya matahari karena orang yang jima' berbuka dg tanpa 'udzur.. Untuk kafarah :wajib hanya bagi laki-laki karena diqiyaskan dengan mahar

kafarah itu berupa memerdekakan budak, jika tidak mampu, berpuasa dua bulan berturut turut, jika tidak mampu, memberi makan enam puluh orang miskin.

Tentang makan/ minum dalam keadaan lupa

Jika seorang yang sedang puasa makan/minum dalam keadaan lupa, maka puasanya tidak batal. sebagaimana hadis abu hurairah dari nabi SAW : barang siapa yang makan/minum dalam keadaan lupa, maka tidak batal puasanya. sesungguhnya itu adalah rizki yang diberikan oleh allah ( hadis diriwayatkan oleh tirmidzi dalam bab shaum 721 )

Masalah : jika orang yang berbuka karena tidak tahu, maka tidak ada masalah dg puasanya. karena ketidak tahuannya dihitung udzur.

Masalah : jika seorang yang sedang puasa dipaksa untuk membatalkan puasanya sehingga makanan tersebut sampai pada tenggorokan, maka tidak batal puasanya karena orang yang berpuasa tadi dalam keadaan terpaksa.

Tentang Safar

Jika orang yang berpuasa berniat melakukan perjalanan, maka jika perjalannya lebih dari 82 km di bolehkan berbuka. tapi jika perjalanan untuk melakukan maksiat, maka haram berbuka menurut ulama syafi'iah. hal ini berdasar hadis dari hamzah bin amru, berkata : ya rasulallah SAW, apakah ada puasa dalam perjalanan ? berkata rasul SAW : jika engkau mau berpuasalah, dan jika jika engkau tidak berkenan maka berbukalah. ( hadis diriwayatkan oleh bukhari dalam bab shaum 1942 )madzhab tiga selain hanbali, mensyaratkan bolehnya berbuka saat
safar yaitu jika dimulainya safar sebelum keluar fajar. adapun setelah keluar fajar, maka tidak boleh berbuka terkecuali keadaan memaksa untuk itu. walhasil, berbuka dalam keadaan safar dibolehkan dengan dua syarat :
1. jaraknya lebih dari 82 km
2. memulai perjalannya sebelum keluar fajar

Tentang mandi di laut

Mandi di laut tidak membatalkan puasa. berkata abu yusuf pembesar madzhab hanafi bahwa mandi di laut karena haus sehingga mengakibatkan perut dingin tidak membatalkan puasa. dalam hadis nabi SAW disebutkan : bahwasanya nabi SAW menyiramkan air ke kepala beliau dan beliau dalam keadaan puasa. ( lihat dar al-ifta pembahasan tentang shaum )

Tentang junub ketika berpuasa

Puasa dibolehkan walaupun dari awal terlihatnya fajar saat dalam keadaan junub. sebagaimana hadis riwayat 'aisyah : Nabi SAW memasuki subuh saat dalam keadaan subuh bukan yang ihtilam, dan beliau tetap berpuasa. ( hadis diriwayatkan oleh bukhari dalam bab shaum 1931 )

Tentang sesuatu yang dimasukkan ke mulut

segala sesuatu yang dimasukkan ke mulut tidak membatalkan puasa selagi tidak masuk ke tenggorokan. sehingga dibolehkan menggosok gigi, berkumur, dll. tapi kalau sampai masuk ke tenggorokan maka batal puasanya ( lihat fatawa azhar no 757 oleh syekh hasan makmun )

Tentang Dzan ( sangkaan )

jika sahur ketika fajar dg sangkaan belum tiba waktu setelah fajar, tapi ternyata kenyataannya dia sahur setelah fajar, maka batal puasanya. hal tersebut disebabkan al-dzan, bukan al-yaqin.karena dalam kaidah : la 'ibrata bial-dzanni al-bayyin khata'uhu. ( lihat fatwa azhar no 765 oleh syekh ahmad huraidi )

Tentang orang tua dan sakit

Orang tua dibolehkan berbuka dg ketidakmampuannya untuk berpuasa dg syarat membayar fidyah. fidyah dibayar dg memberi makan pada fakir miskin satu mud setiap harinya untuk puasa yang ditinggalkan. begitu juga orang sakit yang terus menerus sehingga keadaan menjadi sangat lemah maka dibolehkan berbuka dg ganti membayar fidyah, hal ini didasarkan atas firman allah : allah menghendaki memberi kemudahan, dan tidak menghendaki memberi kesulitan. (lihat fatwa azhar 1137 oleh syekh jadulhaq )
 
Sumber : http://forum.dudung.net/index.php?topic=12367.0

Agama dan Iptek

Agama (Ilmu Allah) Dan Akal (ilmu Pengetahuan)
(Menjawab Tantangan Kaum Ilmuwan Orientalis)

Ada sebagian ilmuwan, orang-orang cendikiawan , terpelajar mengatakan bahwa : “ tercapainya (kemajuan) ilmu pengetahuan berarti kemunduran dari peran agama”. Ini adalah sebuah pandangan yang kalau kita cermati isinya merupakan sebuah pandangan yang jelas-jelas memisahkan antara ilmu pengetahuan dan ilmu agama, bagai hulu dan hilir yang tidak mungkin bertemu, dua (2) hal yang berbeda tidak ada sangkut pautnya sama sekali. Di satu sisi Ilmu pengetahuan adalah hasil perjalanan pemikiran tertinggi yang dapat diuji kebenarannya, sedang kan agama hanyalah berisi dongeng, legenda, khurafat, kisah, dan lainnya yang tidak bisa di buktikan (diuji) kebenarannya. Demikianlah anggapan kebanyakan kaum orientalis yang memberi sekat antara ilmu pengetahuan dan ilmu agama. Dengan kata lain “MUSTAHIL” dapat menyatukan diantara keduanya.
Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini terasa sekali seolah-olah ilmu pengetahuan berada dibarisan terdepan jauh sekali meninggalkan peran agama yang hanya berkutat pada hal-hal yang diluar jangkauan pemikiran. Era modern ini banyak sekali ditemukan alat-alat yang semakin menunjukkan kedigdayaan ilmu pengetahuan, dari teknologi yang dapat menembus lapisan-lapisan tanah sampai teknologi ruang angkasa yang semakin menguak hakikat ilmu pengetahuan.
Apakah benar demikian ?
Apakah agama (kitab suci) tidak meninggalkan jejak sama sekali hal-hal yang berkaitan dengan akal manusia, hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan ?

Ini buktinya (1):

Untuk membuktikannya terpaksa juga kita harus menggunakan akal, supaya mereka para ilmuwan di atas bisa memahaminya.

Hukum KEBETULAN tidak akan melahirkan KETERATURAN, apakah benar demikian ? kebetulan saya ketemu dengan si A di sebuah pusat perbelanjaan, berarti saya tidak pernah merencanakan, menyusun, membuat konsep, serta menentukan, dimana, kapan, jam berapa saya ketemu dengan si A, karena memang hanya kebetulan ketika saya mau berbelanja sesuatu di tempat tersebut berjumpa dengan si A. Sejauh itu terpikirkanpun tidak ada sama sekali di dalam benak saya akan berjumpa dengan si A. Ya…..karena memang begitulah yang namanya kebetulan.

Sesuai dengan hukum kebetulan di atas, kita manusia dengan kekuatan akalnya mengakui bahwa dunia (alam semesta) ini bukanlah kita yang menciptakan, bukan pula binatang apalagi tumbuh-tumbuhan atau yang lainnya. (sejauh ini penulis belum pernah mendengar ada klaim dari seorang manusia bahwa dialah yang menciptakan alam semesta ini, jika ada saya jamin dia pasti kita sebut “ORANG GILA”)

Kalau kita lihat dan renungkan alam semesta ini dari jaman dulu sampai jaman global sekarang ini berjalan tetap bersesuaian, beredar pada garis orbit masing-masing tanpa saling mendahului. Planet yang satu sangat menghormati planet lainnya. Saya belum pernah melihat matahari lebih dari 12 jam, setelah itu pasti akan digantikan oleh bulan, atau bulan terlihat di atas sana selama dua hari berturut-turut terus menerus, hujan atau salju berturut-turut selama 365 hari. Sekiranya matahari (siang) terus menerus selama berhari-hari kita semua pasti akan kepanasan, kemudian terbakar, kemudian melepuh sampai menghanguskan tulang belulang kita, begitu juga sekiranya malam terus menerus berhari-hari, kita pasti akan kedinginan, menggigil, sampai akhirnya membekukan kulit dan tulang kita. Malahan yang terjadi sebaliknya matahari akan memberikan kesempatan kepada bulan, panas memberi kesempatan kepada dingin begitu seterusnya terjadi sudah berabad-abad lamanya. Ini semua membuktikan kepada kita bahwa alam semesta terjadi TIDAKLAH KEBETULAN , tetapi melalui sebuah perencanaan, konsep, ada susunan yang terarah yang pada akhirnya melahirkan hukum kepastian. HUKUM KEPASTIAN akan melahirkan KETERATURAN.

Timbul pertanyaan siapa yang membuat alam semesta yang memiliki kepastian, memiliki keberaturan ? Jawabannya yang pasti bukanlah manusia, apalagi binatang atau tumbuhan. Juga tidak pula alam itu sendiri karena alam tidak sanggup merencanakan, mengatur dirinya sendiri karena alam tidak mampu berfikir secara sistematis. Lalu siapa ? perhatikan berikut :

Seorang anak manusia yang tidak bisa membaca, menulis, tidak memiliki pendidikan tinggi sekaliber para ilmuwan diatas, 14 abad yang lalu (masa dimana tidak ada peralatan canggih yang bisa membantu menguak tabir hakekat ilmu pengetahuan ) ada mengatakan :

“Dia (Allah) menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar. Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam, dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang di tentukan. Ingatlah Dia-lah yang Maha Perkasa Lagi Maha Pengampun”. QS. Az-Zumar 5).

Perhatikan lagi :

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya”.(QS. Yaasin 40)

“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur”.(QS. Al-Furqaan 62)
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka tetap tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS. An-Naml 88)


Tidakkah ayat-ayat di atas berisi ilmu pengetahuan, berisi tentang rotasi bumi misalnya ? Dari siapa Nabi Muhammad mendapatkan ayat tersebut di atas? Tidak mungkin dari beliau sendiri karena beliau adalah seorang yang ummi, tidak pula beliau seorang ilmuwan . Tentu pastilah dari Sang Pencipta alam semesta itu sendiri yang memberitahu beliau melalui wahyu-Nya. (Sebagai catatan ilmu tentang ruang angkasa baru dapat dibuktikan oleh para ilmuwan dengan menggunakan alat teknologi canggih pada abad-abad terakhir ini).

Bukti lain lagi (2) :

Menurut ilmuwan ahli syaraf, teknologi dan ilmu pengetahuan sekarang dapat membuktikan bahwa posisi syaraf berada langsung di bawah kulit, sehingga apabila kulit manusia terbakar maka akan hilanglah rasa sakit yang menyertainya. Sehubungan dengan itu perhatikan ayat yang disampaikan Allah melalui Nabi Muhammad 14 abad yang lalu, berikut ini :

“Setiap kulit mereka hangus. Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab” .(QS. An-Nisaa’56)

Perhatikan lagi :

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa kekal di dalam azab neraka jahanam. Tidak diringankan azab itu dari mereka dan mereka di dalamnya berputus asa” .(QS. Az-Zukhruf 74-75)

Dengan ayat ini kita diberitahu bahwa azab neraka itu kekal, terus menerus, tidak diringankan dan tidak pula dihentikan. Beliau tahu bahwa kulit yang hangus itu menyebabkan hilangnya rasa sakit. Dimana beliau mendapatkan ayat ini kalau tidak dari Allah sang Pencipta ? Ayat ini lebih dulu ada sebelum diungkap oleh ilmu pengetahuan.

Bukti lain lagi (3):

Ilmu pengetahuan sekarang dengan teknologi modern yang mendukungnya sekarang telah membuktikan bahwa alam semesta ternyata merupakan “tata surya yang satu kesatuan” . Hakekat ilmiah ini baru ditemukan beberapa tahun belakangan ini. Dan untuk mengetahuinya haruslah menggunakan cara-cara ilmiah dan riset yang sangat rumit dengan waktu yang lama pula.

Perhatikan :

Ayat dibawah ini sudah disampaikan 14 abad sebelum cara-cara ilmiah dan riset yang rumit ditemukan tentang susunan tata surya (ayat ini juga sekaligus berbicara tentang rahasia kehidupan di bumi ,tentang makhluk hidup, yakni tentang air sebagai sumber kehidupan).

“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa bumi dan langit itu keduanya dulu adalah sesuatu (kesatuan) yang padu. Kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman ? “.(QS. Al-Anbiyaa 30)

Bukti lain lagi (4):

Menurut pakar modern dewasa ini (NASA) sampai saat ini telah melakukan percobaan-percobaan terhadap logam-logam yang ada di bumi. Salah satu logam yang membingungkan ilmuwan adalah logam B e s i. Menurut mereka sifat kimianya mempunyai ciri yang khas. Agar elektron dan neutron dalam initi besi dapat menyatu di butuhkan kekuatan yang sangat dahsyat yang bisa mencapai empat (4) kali kekuatan yang ada pada matahari. Kesimpulannya adalah bahwa besi tidak mungkin tercipta di bumi dan merupakan unsur asing yang datang ke bumi karena kekuatan dari bumi tidak dapat menyatukan inti dari logam besi tersebut.

Perhatikan ayat berikut :

“Dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia”.(QS. Al-Hadid)

Ayat tersebut di atas sudah lama berabad-abad diberitahukan Allah kepada manusia melalui Nabi Muhammad SAW, tentang kekuatan logam besi, sedangkan ilmu pengetahuan baru pada dekade ini saja mampu menguak misterinya, itupun melalui riset yang panjang dan melalui tahapan ilmiah yang cukup rumit. Siapa yang memberi tahu Muhammad tentang hal itu kalau tidak dari Allah ?

Bukti lain lagi (5):


“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati (baerasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk) lain. Maha Sucilah Allah. Pencipta yang paling baik”.(QS. Al-Mukminun 12-14)
.

Hal di atas selaras dengan pandangan ilmuwan dewasa ini, perkembangan janin dalam bentuk embrio di dalam rahim mirip gumpalan darah (alaqah artinya adalah darah beku). Hal terungkap setelah dilakukan pemotretan dengan menggunakan sinar. Demikian fase-fase terbentuknya manusia dari sisi ilmu pengetahuan diakui sesuai dengan apa yang dinyatakan di dalam Al-Qur’an. Dari mana Muhammad tahu tahapan-tahapan tersebut kalau bukan dari Allah sang pencipta manusia !.

Bukti lain lagi (6):

Ilmu pengetahuan sekarang membuktikan bahwa gunung-gunung mempunyai akar-akar yang menghujam ke dalam tanah. Fenomena ini baru diketahui setelah dilakukan pemotretan dengan menggunakan peralatan canggih yang menunjukkan adanya pasak-pasak gunung yang disebut akar, menghujam jauh ke dasar tanah.
Perhatikan firman Allah SWT :

“Bukankah Kami telah jadikan bumi itu sebagai hamparan ? Dan gunung-gunung sebagai pasak” (QS.An-Nabaa 6-7)

Ayat diatas sudah ada 14 abad silam sebelum ditemukan alat pemotretan gambar yang sangat canggih hingga dapat menembus ke dalam tanah. Subhanallah, Maha Besar Allah akan segala ciptaan-Nya.

Bukti lain lagi (7):

Menurut ilmu oceanologi dewasa ini, dengan menggunakan kamera modern yang canggih , menunjukkan bahwa kondisi lautan di dunia ini tidak semuanya sama atau serupa. Pada tiap lautan ada perbedaan-perbedaan suhu, kadar garam, konsentrasi dan kadar oksigen. Ada yang berwarna biru pekat, ada yang hitam, ada pula yang kuning. Dari hasil observasi perbedaan di atas disebabkan adanya perbedaan suhu di antara satu lautan dengan yang lainnya. Kemudian dari hasil pengambilan gambar khusus untuk mengukur suhu melalui satelit dan pesawat ruang angkasa terlihat garis putih tinggi yang memisahkan antara satu lautan dengan lautan lainnya. Begitulah yang dinyatakan oleh ilmuwan berdasarkan ilmu pengetahuan yang mereka kuasai.

Perhatikan ayat berikut :

“Dialah Allah yang membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, Antara keduanya adat batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing”.(QS. Ar-Rahman 19-20)

Dari mana nabi Muhammad mengetahui fenomena alam di atas, sedang beliau seorang yang ummi, tidak pula sebagai seorang ilmuwan. Pasti sudah Allah yang memberitahunya.

Demikianlah apa yang dikemukakan para kaum ilmuwan orientalis, semakin berkembangnya ilmu pengetahuan maka semakin tergeser pulalah peran dari agama, ternyata malah sebaliknya dengan semakin banyak misteri ilmu pengetahuan yang terkuak (yang tentunya didukung oleh teknologi modern) maka semakin membuktikan kebenaran-kebenaran wahyu yang diturunkan Allah kepada nabi Muhammad SAW, dan semakin ilmu pengetahuan mampu membuka tabir alam semesta ternyata semakin membuktikan adanya Allah.

Akhirul kalam, semoga hal di atas dapat memperkokoh rasa keimanan kita kepada Allah sang pencipta alam semesta. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Kotabaru_Awal juni_2011.

(tulisan ini berasal dari berbagai referensi, terutama dari hasil konfrensi Alijaz tentang kekayaan ilmu pengtahuan di dalam Al-Qur’anul Karim.)

Download Artikel klik sini

Keajaiban Al Quran dan Ilmu Pengetahuan


Benar kiranya jika Al Qur’an disebut sebagai mukjizat. Bagaimana tidak, ternyata ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan di abad ke 7 masehi di mana ilmu pengetahuan belum berkembang (saat itu orang mengira bumi itu rata dan matahari mengelilingi bumi), sesuai dengan ilmu pengetahuan modern yang baru-baru ini ditemukan oleh manusia.

Sebagai contoh ayat di bawah:

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” [Al Anbiyaa:30]

Saat itu orang tidak ada yang tahu bahwa langit dan bumi itu awalnya satu. Ternyata ilmu pengetahuan modern seperti teori Big Bang menyatakan bahwa alam semesta (bumi dan langit) itu dulunya satu. Kemudian akhirnya pecah menjadi sekarang ini.

Kemudian ternyata benar segala yang bernyawa, termasuk tumbuhan bersel satu pasti mengandung air dan juga membutuhkan air. Keberadaan air adalah satu indikasi adanya kehidupan di suatu planet. Tanpa air, mustahil ada kehidupan. Inilah satu kebenaran ayat Al Qur’an.

Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Qur’an, ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu.

“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (Al Qur’an, 21:33)

Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu:

“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Al Qur’an, 36:38)

Langit yang mengembang (Expanding Universe)

Dalam Al Qur’an, yang diturunkan 14 abad silam di saat ilmu astronomi masih terbelakang, mengembangnya alam semesta digambarkan sebagaimana berikut ini:

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (Al Qur’an, 51:47)

Menurut Al Qur’an langit diluaskan/mengembang. Dan inilah kesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan masa kini.

Sejak terjadinya peristiwa Big Bang, alam semesta telah mengembang secara terus-menerus dengan kecepatan maha dahsyat. Para ilmuwan menyamakan peristiwa mengembangnya alam semesta dengan permukaan balon yang sedang ditiup.

Hingga awal abad ke-20, satu-satunya pandangan yang umumnya diyakini di dunia ilmu pengetahuan adalah bahwa alam semesta bersifat tetap dan telah ada sejak dahulu kala tanpa permulaan. Namun, penelitian, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa alam semesta sesungguhnya memiliki permulaan, dan ia terus-menerus “mengembang”.

Pada awal abad ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi Belgia, George Lemaitre, secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang.

Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929. Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi.

Gunung yang Bergerak

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.” [QS 27:88]

14 abad lampau seluruh manusia menyangka gunung itu diam tidak bergerak. Namun dalam Al Qur’an disebutkan gunung itu bergerak.

Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.

Gambar Gerakan Gunung / BenuaPara ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.

Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.

Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.

Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:

Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)

Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)

Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.

“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit lalu Kami beri minum kamu dengan air itu dan sekali kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (Al Qur’an, 15:22)

Segala Sesuatu diciptakan Berpasang-pasangan

Al Qur’an yang berulang-ulang menyebut adanya pasangan dalam alam tumbuh-tumbuhan, juga menyebut adanya pasangan dalam rangka yang lebih umum, dan dengan batas-batas yang tidak ditentukan.

“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa-apa yang mereka tidak ketahui.” [Yaa Siin 36:36]

Kita dapat mengadakan hipotesa sebanyak-banyaknya mengenai arti hal-hal yang manusia tidak mengetahui pada zaman Nabi Muhammad. Hal-hal yang manusia tidak mengetahui itu termasuk di dalamnya susunan atau fungsi yang berpasangan baik dalam benda yang paling kecil atau benda yang paling besar, baik dalam benda mati atau dalam benda hidup. Yang penting adalah untuk mengingat pemikiran yang dijelaskan dalam ayat itu secara rambang dan untuk mengetahui bahwa kita tidak menemukan pertentangan dengan Sains masa ini.

Meskipun gagasan tentang “pasangan” umumnya bermakna laki-laki dan perempuan, atau jantan dan betina, ungkapan “maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” dalam ayat di atas memiliki cakupan yang lebih luas. Kini, cakupan makna lain dari ayat tersebut telah terungkap. Ilmuwan Inggris, Paul Dirac, yang menyatakan bahwa materi diciptakan secara berpasangan, dianugerahi Hadiah Nobel di bidang fisika pada tahun 1933. Penemuan ini, yang disebut “parité”, menyatakan bahwa materi berpasangan dengan lawan jenisnya: anti-materi. Anti-materi memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengan materi. Misalnya, berbeda dengan materi, elektron anti-materi bermuatan positif, dan protonnya bermuatan negatif. Fakta ini dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah sebagaimana berikut:

“…setiap partikel memiliki anti-partikel dengan muatan yang berlawanan … dan hubungan ketidakpastian mengatakan kepada kita bahwa penciptaan berpasangan dan pemusnahan berpasangan terjadi di dalam vakum di setiap saat, di setiap tempat.”

Semua ini menunjukkan bahwa unsur besi tidak terbentuk di Bumi, melainkan dibawa oleh meteor-meteor melalui letupan bintang-bintang di luar angkasa, dan kemudian “dikirim ke bumi”, persis sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut. Jelas bahwa fakta ini tak mungkin diketahui secara ilmiah pada abad ke-7, di saat Al Qur’an diturunkan.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More